Pages

Selasa, 29 Januari 2019

TBM PRABU KRESNA


TBM PRABU KRESNA
Berawal dari kegemarannya yang sering berkunjung ke pameran buku dan melihat banyak buku cerita anak yang murah meriah namun kontennya bagus, maka timbullah keinginan untuk selalu membelinya. Rencana awalnya sih semua buku yang dibeli itu akan diberikan ke anaknya kelak. Namun karena waktu itu belum ada momongan, maka buku-buku yang dibeli hanya ditumpuk dan disimpan saja. Daripada mubazir maka tercetuslah ide untuk sementara waktu buku-buku tersebut dipinjamkan untuk murid-murid PAUD di sekolah tempatnya mengajar.
Sampai akhirnya pada suatu waktu, Ibu yang satu ini baru sadar kalau ternyata koleksi buku-bukunya sudah banyak sekali. Dan kebetulan pada masa itu ada beberapa anak-anak tetangga suka main kerumahnya untuk bermain bersama anaknya dan sekalian melihat – lihat gambar di buku cerita, maka terciptalah ide untuk membuka rumah baca yang bertujuan memberikan kemudahan akses buku kepada anak-anak.
Mendapat dukungan penuh dari sang suami, ide itu pun berhasil diwujudkan sehingga pada tanggal 29 Mei 2012 secara resmi dibukanya Rumah Baca Prabu Kresna. Beralamatkan di Dsn. Congol Ds. Medayu Kecamatan Suruh – Kabupaten Semarang.  Nama Prabu Kresna dipilih menjadi nama Rumah Bacanya karena Prabu Kresna adalah tokoh yang cendekia dan suka belajar.
Adalah Mbak Arita atau yang kerap kali dipanggil Bunda Arita yang menjadi pendiri dan pengelola Rumah Baca Prabu Kresna. Awal pendirian Rumah Baca ini karena Bunda prihatin melihat masyarakat sekitar tempat tinggalnya yang sangat sulit untuk diajak berpikir maju dan hanya mengedepankan keinginan sendiri saja. Maka dicobalah untuk membuka taman baca ini dengan harapan generasi muda khususnya bisa lebih terbuka pikirannya dan lebih maju. Bagi Bunda Arita menganggap salah satu cara efektif untuk memulai perubahan ini adalah dengan membaca buku.
Pada awal pendirian TBM ini Bunda Arita memajang buku koleksinya. Bunda juga kerap berburu buku di pameran seperti biasanya. Bergabung dengan jaringan 1001 buku juga dilakukannya. Lalu berkembang ke arah rolling buku dengan teman-teman pemilik TBM lainnya sehingga buku bisa berputar. Terkadang Bunda juga mendapatkan donasi dari teman-temannya.
Waktu awal-awal pembukaan TBM ini Bunda menggunakan cara promosi yang cukup kreatif. Bunda “merayu” anak tetangga belakang rumah  untuk main ke rumahnya. Nah pas mereka lagi main mulailah Bunda membacakan buku anak-anak, eh lama kelamaan mereka suka main ke Rumah Baca untuk membaca dan meminjam buku. Yang perlu disayangkan saat itu adalah dukungan dari para orang tua anak-anak tetangga itu yang masih minim. Bunda tak putus asa mencari cara dan mencoba melihat celah apa yang bisa dilalui. Nah karena ternyata masyarakat sekitar tempat tinggalnya cukup religius, maka Bunda berinisiatif untuk mengadakan TPQ – ya tujuannya sih untuk “memancing” orang tua agar mengijinkan anak-anaknya datang ke Prabu Kresna. And it works !!!!!. Anak-anak yang datang ke Prabu Kresna makin banyak dan itu artinya otomatis lebih banyak anak-anak yang mengakses buku. Anak-anak terbiasa membaca buku di sela-sela waktu menunggu giliran mereka mengaji atau saat menunggu Ustadzah datang. Akhirnya usaha Bunda cukup membuahkan hasil, para orang tua membantu mempromosikan Rumah Baca Prabu Kresna dari mulut ke mulut. Jadwal untuk TPQ adalah 4 kali dalam seminggu dari hari Senin-Kamis dari jam 15.30 sampai 17.30.

Bagi Bunda Arita sangatlah penting untuk menjaga semangat membaca dan belajar anak – anak di Prabu Kresna. Nah Bunda Arita pun mengadakan beberapa kegiatan untuk mereka, baik insidental maupun yang rutin. Kegiatan yang rutin berupa perlombaan di bulan Ramadhan dan Agustusan. Contoh salah satu kegiatan yang diadakan di bulan Ramadhan adalah dengan membuat kegiatan berdasarkan e-book “Anti Mati Gaya”.  Jadi anak dimotivasi untuk membaca dan memahami tutorial yang ada di buku lalu mempraktekannya  seperti membuat kartu ucapan lebaran bentuk pop up, menghias cup, membuat tas kertas, dll.  Hasilnya akan dikumpulkan dulu dan boleh dibawa pulang semua pada hari terakhir mereka mengaji.
Untuk kegiatan insidental biasanya berupa mendatangkan pemateri dari luar untuk mengajak anak Prabu Kresna belajar dan bermain. Kegiatan insidental yang pernah dilakukan seperti Latihan nulis cerita bersama kak Tia ( Jakarta ), latihan membuat cilot langsung bersama mas penjual cilot                ( Suruh ), main bareng dengan kakak-kakak Bookneylicious ( Semarang ), latihan gambar sederhana bersama kak Sela ( Congol ), Latihan membuat kroket bersama kak Yulia ( Salatiga ), dll.
Bunda pun sempat menceritakan bahwa pada awal – awal pendirian Rumah Baca ini ada orang-orang yang pro dan kontra.  Kubu Pro ini biasanya adalah para orang tua yang sudah open minded atau istilah kerennya “mambu kutho”. Karena mereka sudah lebih mengerti tentang manfaat baik dari membaca, maka mereka sangat mendukung dengan cara bersedia membacakan buku yang dipinjam anaknya dan tertib saat mengembalikan mengembalikan buku.
Sedangkan Kubu Kontra ini biasanya adalah para orang tua yang mulai merasa “terganggu” rutininitasnya karena si anak mulai meminta untuk dibacakan buku secara terus menerus. Bahkan sampai ada lho orang tua yang melarang anaknya untuk meminjam buku. Ketika Bunda Arita mencoba menanyakan alasannya, jawaban yang didapat cukup lucu dan miris. Ada orang tua yang berpendapat bahwa percuma saja anaknya meminjam buku karena si anak belum bisa membaca. Ada juga yang merasa waktu santainya jadi terusik karena si anak minta dibacakan buku. Serta ada pula orang tua yang melarang anaknya untuk meminjam buku resep masakan karena setibanya dirumah si anak minta dibuatkan masakan seperti di resep tersebut. Lumayan kocak ya pemikiran para orang tua yang belum open minded atau belum “mambu kutho” itu.
Selain tantangan yang didapat dari orangtua, ternyata ada tantangan lain yang berasal dari pengelola MI di seberang Rumah Baca yang juga mengadakan TPQ di sekolah namun sudah lama vakum. Melihat semangat para muridnya yang mengaji di TPQ Prabu Kresna, maka mulai muncullah kecemburuan dan keinginan untuk menghidupkan kembali TPQ di MI nya dengan cara membuat anak – anak belajar sampai sore di MI sehingga mereka tidak bisa ke Rumah Baca. Namun begitu anak – anak tetap memilih ke Rumah Baca karena selain mengaji mereka juga bisa membaca buku.
Namun satu sisi yang cukup membahagiakan karena ternyata perangkat desa cukup mengapresiasi adanya Rumah Baca ini karena merupakan satu-satunya rumah baca mandiri di wilayah mereka. Perangkat desa memberikan dukungan  nyata kepada TPQ yaitu dengan memberikan insentif kepada uztadzah setahun sekali, memang tidak besar jumlahnya namun itu cukup membuktikan bahwa mereka mendukung program-program yang diadakan oleh Rumah Baca Prabu Kresna.
Saat ini tantangan utama yang dihadapi Rumah Baca Prabu Kresna adalah  bagaimana cara untuk mempertahankan atau meningkatkan  kegemaran membaca anak-anak yang, saat ini,  masih naik turun.  Namun Bunda Arita tidak pernah patah semangat dalam “memancing” mereka untuk selalu mau membaca.
Harapan Bunda untuk Rumah Baca Prabu Kresna sih tidak terlalu muluk-muluk. Bunda hanya ingin minat membaca dan belajar anak-anak meningkat. Bunda juga ingin merealisasikan impiannya seperti mempunyai relawan yang ikhlas mengurus Rumah Baca ini setiap harinya serta menata kembali manajemen rumah baca supaya lebih menarik dan membuat nyaman anak – anak dalam membaca dan bermain di sini.
Well, itulah cerita tentang TBM Rumah Baca Prabu Kresna. Yuk bagi teman-teman sekalian yang mau mendonasikan buku atau ingin ikut memajukan TBM ini boleh banget kok. Bisa langsung dikirimkan ke Rumah Baca Prabu Kresna Dsn. Congol Rt 2 Rw 1 Medayu, Suruh, Kab Semarang 50776 atau menghubungi nomor  0856-4064-0271  atas nama Bunda Arita.
Sekian dan terimakasih sudah membaca.

NB : Berikut beberapa foto-foto dari kegiatan yang pernah dilakukan Bookneylicious dan Prabu Kresna. Serta ada foto spanduk TBM Prabu Kresna di halaman depan rumah Bunda Arita. 










Tentang Bookneylicious


Hi para pembaca.............

Tulisan ini adalah karya (tulisan) pertama di blog ini, Maka di tulisan perdana ini aku ingin memperkenalkan pada kalian tentang Bookneylicious. Baiklah mari kita mulai perkenalan dengan Bookneylicious.

Bookneylicious adalah sebuah grup. Grup yang terdiri dari beberapa anak muda yang punya visi dan misi yang sama yaitu kepedulian tentang buku dan membaca. Berawal dari keprihatinan kami terhadap minat baca yang saat ini mulai menurun terutama di kalangan anak-anak jaman now, Dimana jaman sekarang ini mereka lebih suka dan lebih sering menghabiskan waktu dengan perangkat elektronik. Padahal seperti yang kita tahu bahwa terlalu banyak terpapar perangkat elektronik tersebut akan menimbulkan efek yang tidak baik buat perkembangan motorik maupun psikologisnya.

Karena kamipun juga merasakan efek baik dari membaca,Maka berawal dari situlah sampai saat ini kami masih berusaha untuk memberikan donasi buku bacaan kepada TBM yang membutuhkan.
Sebetulnya kami terbentuk secara tidak sengaja. Jadi pada waktu itu aku sempat punya ide untuk mengadakan reuni sesama teman kuliah. Walaupun hanya reuni untuk beberapa teman dekat saja. Setelah semua teman yang diundang itu setuju, maka mulailah aku memikirkan tempat dan waktu reuninya.

Tiba-tiba terlintaslah ide di kepalaku tentang apa yang akan kita lakukan saat reuni nanti. Karena aku berpikir reuni itu selalu identik dengan makan-makan, foto-foto, cerita masa lalu dan cerita masa kini tapi semisal sudah selesai reuni maka selesai pula kegembiraan kami. Dan kami tidak mendapatkan manfaat apa-apa. Nah idenya saat itu sih adalah 1 orang akan membawa minimal 1 buku bacaan dan dikumpulkan pada saat reuni yang nantinya akan disumbangkan ke panti asuhan atau sekolah terdekat yang membutuhkan. Tapi sayangnya agenda reuni kami gagal karena ada beberapa teman kami yang memang sibuk.

Hingga akhirnya suatu hari aku berpikir ingin melanjutkan ide yang sempat mandeg itu. Aku mencoba bertanya kepada salah satu temanku, apakah kira-kira dia mau ikut berdonasi buku untuk anak-anak. Dan jawabannya iya. Lalu aku mencoba bertanya pada teman-teman lainnya yang aku kenal dan mereka semua setuju.

Namun donasi kali ini bentuknya sih uang dan nantinya akan dibelanjakan buku lalu disumbangkan. Aku memakai cara ini karena paling tidak ini adalah cara termudah dan termurah serta teringan untuk beramal karena seperti sistem gotong royong. Dengan donasi yang minimal bila dikalikan banyak orang maka akan menjadi uang yang banyak tentunya.

Sampai saat ini anggota Bookneylicious adalah 11 orang (aktif) muda yang baik hati dan luar biasa. Ya diharapkan sih bisa bertambah lagi ya. Cara kerja kami sederhana saja. Setiap bulannya kami akan berdonasi minimal Rp. 50.000 saja dan setelah terkumpul maka uang itu akan dibelanjakan buku. Dan dikirimkan ke TBM yang membutuhkan.  Dan donasi buku ini gratis tanpa pungutan biaya apa saja. Kami hanya “memungut pajak” yaitu foto-foto  dari mereka dan anak-anak pembaca saat mereka menerima buku tersebut serta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. Karena uang ini adalah amanah bersama maka salah satu bentuk tanggungjawabku kepada teman-teman adalah dengan memperlihatkan foto-foto bahwa buku tersebut sudah datang dengan selamat.

Lalu apa arti dari Bookneylicious dan kenapa memakai nama itu ?
Book artinya buku
Ney diambil dari kata Journey
Licious diambil dari kata Delicious
Artinya sih kurang lebih adalah sekelompok anak-anak muda yang cinta buku, jalan-jalan atau petualangan serta doyan makan. Memang terkesan seperti tidak ada hubungannya sih cuma karena kami berlatarbelakang hampir sama semua dengan kata-kata diatas yaitu kami suka baca, kami suka travelling, kami suka kuliner juga (dari yang aku perhatikan selama kami berteman ya – kalo salah maap ya teman-teman). Maka nama itulah yang dipakai sampai saat ini.

Aku berpikir hanya dengan cara ini yang bisa kami lakukan untuk negara kami Indonesia. Walaupun andil kami kecil sekali dalam membantu memerangi buta huruf dan minat baca yang rendah, tapi paling tidak kami bisa sedikit (merasa) meringankan beban pemerintah dalam urusan pendidikan (non formal). Dan inilah cara kami untuk membanggakan Indonesia serta almamater kami.

Jadi begitulah sekilas ceritaku tentang grup kami. Berharap grup kami membawa manfaat bagi orang lain ya. Bisa membantu (secara tidak langsung) mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.

Bagi kakak-kakak sekalian yang ingin bergabung atau berdonasi boleh juga kok, kami siap untuk menerimanya J

Sekian dan terimakasih.