TBM
PRABU KRESNA
Berawal dari
kegemarannya yang sering berkunjung ke pameran buku dan melihat banyak
buku cerita anak yang murah meriah namun kontennya bagus, maka timbullah
keinginan untuk selalu membelinya. Rencana awalnya sih semua buku yang dibeli
itu akan diberikan ke anaknya kelak. Namun karena waktu itu belum ada momongan,
maka buku-buku yang dibeli hanya ditumpuk dan disimpan saja. Daripada mubazir
maka tercetuslah ide untuk sementara waktu buku-buku tersebut dipinjamkan untuk
murid-murid PAUD di sekolah tempatnya mengajar.
Sampai
akhirnya pada suatu waktu, Ibu yang satu ini baru sadar kalau ternyata koleksi
buku-bukunya sudah banyak sekali. Dan kebetulan pada masa itu ada beberapa anak-anak
tetangga suka main kerumahnya untuk bermain bersama anaknya dan sekalian melihat
– lihat gambar di buku cerita, maka terciptalah ide untuk membuka rumah baca yang
bertujuan memberikan kemudahan akses buku kepada anak-anak.
Mendapat
dukungan penuh dari sang suami, ide itu pun berhasil diwujudkan sehingga pada
tanggal 29 Mei 2012 secara resmi dibukanya Rumah Baca Prabu Kresna. Beralamatkan di Dsn.
Congol Ds. Medayu Kecamatan Suruh – Kabupaten Semarang. Nama Prabu Kresna dipilih menjadi nama Rumah
Bacanya karena Prabu Kresna adalah tokoh yang cendekia dan suka belajar.
Adalah
Mbak Arita atau yang kerap kali dipanggil Bunda Arita yang menjadi pendiri dan
pengelola Rumah Baca Prabu Kresna. Awal pendirian Rumah Baca ini karena Bunda
prihatin melihat masyarakat sekitar tempat tinggalnya yang sangat sulit untuk
diajak berpikir maju dan hanya mengedepankan keinginan sendiri saja. Maka
dicobalah untuk membuka taman baca ini dengan harapan generasi muda khususnya
bisa lebih terbuka pikirannya dan lebih maju. Bagi Bunda Arita menganggap salah
satu cara efektif untuk memulai perubahan ini adalah dengan membaca buku.
Pada
awal pendirian TBM ini Bunda Arita memajang buku koleksinya. Bunda juga kerap
berburu buku di pameran seperti biasanya. Bergabung dengan jaringan 1001 buku
juga dilakukannya. Lalu berkembang ke arah rolling buku dengan teman-teman
pemilik TBM lainnya sehingga buku bisa berputar. Terkadang Bunda juga
mendapatkan donasi dari teman-temannya.
Waktu
awal-awal pembukaan TBM ini Bunda menggunakan cara promosi yang cukup kreatif.
Bunda “merayu” anak tetangga belakang rumah
untuk main ke rumahnya. Nah pas mereka lagi main mulailah Bunda
membacakan buku anak-anak, eh lama kelamaan mereka suka main ke Rumah Baca
untuk membaca dan meminjam buku. Yang perlu disayangkan saat itu adalah
dukungan dari para orang tua anak-anak tetangga itu yang masih minim. Bunda tak
putus asa mencari cara dan mencoba melihat celah apa yang bisa dilalui. Nah karena
ternyata masyarakat sekitar tempat tinggalnya cukup religius, maka Bunda
berinisiatif untuk mengadakan TPQ – ya tujuannya sih untuk “memancing” orang
tua agar mengijinkan anak-anaknya datang ke Prabu Kresna. And it works !!!!!.
Anak-anak yang datang ke Prabu Kresna makin banyak dan itu artinya otomatis lebih
banyak anak-anak yang mengakses buku. Anak-anak terbiasa membaca buku di
sela-sela waktu menunggu giliran mereka mengaji atau saat menunggu Ustadzah
datang. Akhirnya usaha Bunda cukup membuahkan hasil, para orang tua membantu
mempromosikan Rumah Baca Prabu Kresna dari mulut ke mulut. Jadwal untuk TPQ adalah
4 kali dalam seminggu dari hari Senin-Kamis dari jam 15.30 sampai 17.30.
Bagi
Bunda Arita sangatlah penting untuk menjaga semangat membaca dan belajar anak –
anak di Prabu Kresna. Nah Bunda Arita pun mengadakan beberapa kegiatan untuk
mereka, baik insidental maupun yang rutin. Kegiatan yang rutin berupa
perlombaan di bulan Ramadhan dan Agustusan. Contoh salah satu kegiatan yang
diadakan di bulan Ramadhan adalah dengan membuat kegiatan berdasarkan e-book “Anti Mati Gaya”. Jadi anak dimotivasi untuk membaca dan memahami tutorial yang ada di
buku lalu
mempraktekannya seperti membuat kartu ucapan lebaran bentuk pop up, menghias cup,
membuat tas kertas, dll. Hasilnya akan
dikumpulkan dulu dan
boleh dibawa pulang semua pada hari terakhir mereka mengaji.
Untuk
kegiatan insidental biasanya berupa mendatangkan pemateri dari luar untuk
mengajak anak Prabu Kresna belajar dan bermain. Kegiatan insidental yang pernah
dilakukan seperti Latihan nulis cerita bersama kak Tia ( Jakarta ), latihan
membuat cilot langsung bersama mas penjual cilot ( Suruh ), main bareng dengan
kakak-kakak Bookneylicious ( Semarang ), latihan gambar sederhana bersama kak
Sela ( Congol ), Latihan membuat kroket bersama kak Yulia ( Salatiga ), dll.
Bunda pun
sempat menceritakan bahwa pada awal – awal pendirian Rumah Baca ini ada
orang-orang yang pro dan kontra. Kubu Pro ini biasanya adalah para orang tua
yang sudah open minded atau istilah kerennya “mambu kutho”. Karena mereka sudah
lebih mengerti tentang manfaat baik dari membaca, maka mereka sangat mendukung
dengan cara bersedia membacakan buku yang dipinjam anaknya dan tertib saat
mengembalikan mengembalikan buku.
Sedangkan Kubu
Kontra ini biasanya adalah para orang tua yang mulai merasa “terganggu”
rutininitasnya karena si anak mulai meminta untuk dibacakan buku secara terus
menerus. Bahkan sampai ada lho orang tua yang melarang anaknya untuk meminjam
buku. Ketika Bunda Arita mencoba menanyakan alasannya, jawaban yang didapat
cukup lucu dan miris. Ada orang tua yang berpendapat bahwa percuma saja anaknya
meminjam buku karena si anak belum bisa membaca. Ada juga yang merasa waktu
santainya jadi terusik karena si anak minta dibacakan buku. Serta ada pula
orang tua yang melarang anaknya untuk meminjam buku resep masakan karena
setibanya dirumah si anak minta dibuatkan masakan seperti di resep tersebut.
Lumayan kocak ya pemikiran para orang tua yang belum open minded atau belum “mambu kutho” itu.
Selain tantangan
yang didapat dari orangtua, ternyata ada tantangan lain yang berasal dari
pengelola MI di seberang
Rumah Baca yang juga mengadakan TPQ di sekolah namun sudah
lama vakum. Melihat semangat para muridnya yang mengaji di TPQ Prabu Kresna,
maka mulai muncullah kecemburuan dan keinginan untuk menghidupkan kembali TPQ
di MI nya dengan cara membuat anak – anak belajar sampai sore di MI sehingga
mereka tidak bisa ke Rumah Baca. Namun begitu anak – anak tetap memilih ke
Rumah Baca karena selain mengaji mereka juga bisa membaca buku.
Namun satu
sisi yang cukup membahagiakan karena ternyata perangkat desa cukup
mengapresiasi adanya Rumah Baca ini karena merupakan satu-satunya rumah baca mandiri
di wilayah mereka. Perangkat desa memberikan dukungan nyata kepada TPQ yaitu dengan memberikan
insentif kepada uztadzah setahun sekali, memang tidak besar jumlahnya namun itu
cukup membuktikan bahwa mereka mendukung program-program yang diadakan oleh
Rumah Baca Prabu Kresna.
Saat ini tantangan
utama yang dihadapi Rumah Baca Prabu Kresna adalah bagaimana cara untuk mempertahankan atau
meningkatkan kegemaran membaca anak-anak
yang, saat ini, masih naik turun. Namun Bunda Arita tidak pernah patah semangat
dalam “memancing” mereka untuk selalu mau membaca.
Harapan
Bunda untuk Rumah Baca Prabu Kresna sih tidak terlalu muluk-muluk. Bunda hanya
ingin minat membaca dan belajar anak-anak meningkat. Bunda juga ingin merealisasikan
impiannya seperti mempunyai relawan yang ikhlas mengurus Rumah Baca ini setiap
harinya serta menata kembali manajemen rumah baca supaya lebih menarik dan
membuat nyaman anak – anak dalam membaca dan bermain di sini.
Well,
itulah cerita tentang TBM Rumah Baca Prabu Kresna. Yuk bagi teman-teman
sekalian yang mau mendonasikan buku atau ingin ikut memajukan TBM ini boleh
banget kok. Bisa langsung dikirimkan ke Rumah Baca Prabu Kresna Dsn. Congol Rt
2 Rw 1 Medayu, Suruh, Kab Semarang 50776 atau menghubungi nomor 0856-4064-0271 atas nama Bunda Arita.
Sekian
dan terimakasih sudah membaca.
NB : Berikut beberapa foto-foto dari kegiatan yang pernah dilakukan Bookneylicious dan Prabu Kresna. Serta ada foto spanduk TBM Prabu Kresna di halaman depan rumah Bunda Arita.





